Arsip untuk April, 2009

30
Apr
09

3.3. Substansi rencana menurut jenjang rencana kota


Pada dasarnya pada setiap jenjang rencana kota mengandung 2 muatan utama, yakni materi umum dan materi teknis yaitu tentang struktur ruang kota

3.3.1. Materi umum.

Materi umum adalah uraian yang bersifat deskriptip meliputi penjelasan tentang hal-hal yang ingin dicapai dan cara melaksanakannya.

Pada tingkatan rencana makro , kedalaman muatannya adalah sbb ;

uraian mengenai visi dan misi, tujuan, kebijakan yang bersifat sektoral maupun territorial, strategi pengembangan kota, tahapan maupun prioritas pengembangan.

Pada tingkatan rencana meso, kedalaman muatannya adalah sebagai berikut :

uraian mengenai tujuan yang bersifat lebih spesifik, sasaran dan program pembangunan kawasan dan sektoral.

Pada tingkatan rencana mikro , kedalaman muatannya adalah uraian tentang program dan proyek.

3.3.2. Struktur ruang kota.

Sebelum menguraikan muatan tentang struktur ruang kota maka terlebih dahulu akan dijelaskan tentang pengertian struktur ruang kota dan berbagai komponen utama pembentuk struktur.

Pengertian

Larry S. Bourne ( Larry S. Bourne : Internal Structure of the City, 1982) mendefinisikan struktur ruang kota sebagai berikut :

1, Urban form atau bentuk kota adalah pola ruang atau tatanan dari setiap unsur yang berada dalam area perkotaan, baik bangunan maupun guna lahan ( secara kolektip membentuk lingkungan terbangun ) termasuk juga tatanan kelompok-kelompok sosial, kegiatanekonomi dan institusi publik.

2. Urban interaction adalah interrelasi, keterkaitan, aliran yang mengintegrasikan pola dan perilaku guna lahan, kelompok dan kegiatan ke dalam entitas fungsi, dalam berbagai sub-sistem.

3. Urban spatisial structure atau struktur ruang kota adalah kombinasi dari kedua hal tersebut di atas dalam sub-sub system dengan seperangkat aturan formal yang mengkaitkan semua sub system tersebut ke dalam system kota.

Komponen pembentuk struktur

Menurut S. Bourne  ada beberapa unsur yang membentuk struktur ruang kota antara lain : (1) density, (2) diversity (homogeneity), (3) concentricity, (4) sectorality, (5) conentivity (linkages), (6) directionality.

Sedangkan J.E Gibson ( J.E Gibson: Designing The New City, 1977) menyebutkan bahwa urban form, atau spatial organization ditentukan oleh 6 unsur, yaitu (1) size (ukuran atau besaran penduduk atau geografis kota), (2) population density (pola persebaran penduduk) (3) geometric arrangement (pola jaringan jalan ), (4) grain (dalam konteks ini dimaksudkan sebagai diversity in urban environment, contohnya disebutkan bahwa setiap distrik itu sebaiknya minimal mempunyai 2 fungsi utama atau lebih; blok-blok harus lebih pendek agar sirkulasi lebih mudah dan cepat ; setiap distrik sebaiknya terdiri dari bangunan dari berbagai usia dan kondisi; harus memiliki konsentrasi penduduk yang cukup), (5) accessibility ( adalah kemampuan penduduk, barang atau informasi untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain ) dan (6) character ( menyangkut corak atau kesan estetis suatu lokasi ). Gibson menyebutkan bahwa dari keenam faktor tersebut pola geometric arrangement yang paling menentukan dalam memberikan ciri atau bentuk kota secara fisik.

Pandangan penulis sebagai seorang praktisi yang berkecimpung hampir 30 tahun dalam bidang penataan kota menyimpulkan bahwa struktur ruang kota adalah apa yang disebut sebagai NADI kota. Mengapa disebut nadi kota ? Karena pada hakekatnya struktur ruang kota terdiri dari 4 komponen pembentuk struktur, yaitu N (network), A ( activity), D (distribution of population /density ) dan I ( Intensity ). Materi teknis peraturan zonasi pada hakekatnya adalah mengatur setiap komponen pembentuk struktur tersebut.

to be continued..

Iklan