Arsip untuk Mei, 2011

03
Mei
11

PEMBENAHAN TOTAL TRANSPORTASI JAKARTA DENGAN JALAN LINGKAR SEARAH


disusun oleh :

Ismail Zubir

Ditengah keputus asaan menghadapi kemacetan lalulintas yang semakin parah di Jakarta, maka muncullah ide untuk memindahkan ibukota. Padahal belum ada bukti sama sekali bahwa kemacetan lalulintas di Jakarta adalah akibat peran Jakarta sebagai ibukota. Maka tidak ada jaminan seandainya ibukota pindah, kemacetan di Jakarta akan berkurang.

Pemindahan ibukota memerlukan biaya tinggi. Presiden SBY sendiri menyampaikan  bahwa biaya yang diperlukan sekurang-kurangnya 80 trilyun rupiah, dengan mengambil perbandingan dengan pembangunan Putrajaya sebagai ibukota baru Malaysia. Di negeri para koruptor biaya tersebut bisa membengkak berlipat ganda. Padahal pembenahan total Jakarta, sebagai salah satu dari 3 opsi sebagaimana yang disampaikan Wapres Budiono, barangkali tidak akan mencapai separuh angka tersebut. Yang diperlukan hanyalah keberanian untuk melakukan terobosan dalam membenahi masalah lalulintas Jakarta.

Berbagai macam terapi untuk membenahi lalulintas di Jakarta sudah dilaksanakan, tetapi hasilnya hanya bersifat sementara, tidak signifikan. Tinggal satu pilihan yang belum pernah dicoba, yaitu pola jalan lingkar searah. Ide ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada jalan lingkar yang ada, terutama jalan lingkar dalam , volume lalulintas pada peak hour telah melampaui kapasitas jalan, baik di jalan tol maupun jalan non tol. Jalan tol tidak layak lagi disebut sebagai express way, karena laju kendaraan tidak lebih cepat dari jalan non tol pada peak hour. Karakter lalulintas di Jakarta umumnya, pada kondisi peak hour, kepadatan lalu lintas hanya terjadi pada satu sisi saja. Pada pagi hari di satu sisi, sore hari di sisi lainnya. Ini akibat konsentrasi kegiatan yang menumpuk di tengah kota. Maka apabila dibuat satu arah, kapasitas jalan akan meningkat.

Pembangunan jalan lingkar searah tidak memerlukan biaya infrastruktur yang tinggi karena dapat memanfaatkan ruas jalan yang ada. Biaya yang diperlukan hanya untuk pembenahan simpang dan perambuan.

Ada 3 kumpulan ruas jalan yang dapat dijadikan jalan lingkar searah, dengan pertimbangan ruas jalan tersebut memiliki right of way yang memadai. Ketiga ruas jalan lingkar tersebut yaitu :

Pertama, meliputi ruas Jalan Juanda, Merdeka Barat, Husni Thamrin, Diponegoro, Cikini, Menteng Raya, Merdeka Timur, Veteran ( Ring Satu ). Arus lalulintas diarahkan berlawanan jarum jam.

Kedua,  meliputi ruas jalan Jalan Abd Syafei, Casablanca, Mas Mansyur, Cideng, Zainul Arifin, Sukaryo W, Samanhudi, Gunung Sahari, Kramat Raya ( Ring Dua ). Arus lalulintas diarahkan searah jarum jam.

Ketiga, (jalan lingkar dalam ),  meliputi ruas jalan Yos sudarso, A. Yani, Panjaitan, Let Haryono, Gt Subroto, S. Parman, Harbor Road ( Ring Tiga ). Arus lalulintas diarahkan berlawanan jarum jam.

Jalan lingkar luar  ( Ring Empat ) tetap dipertahankan dua arah untuk menampung arus pergerakan lalu lintas antar kota. Lihat diagram.

 

Pola jalan lingkar searah ini sebaiknya memiliki jalur yang  bebas hambatan dan bebas biaya. Untuk jalan lingkar dalam sudah tersedia jalur bebas hambatannya, yaitu jalan tol.  Agar bebas biaya pemerintah pusat harus membayar ganti rugi biaya investasi yang telah dikeluarkan investor, tentunya dengan menghitung biaya penyusutan asset. Seandainya tetap dipertahankan, maka harus dioperasikan dengan sistim “electronic road pricing”, sehingga tidak ada antrian masuk gerbang. Untuk jalan lingkar searah yang lain, memang harus dibangun underpass ataupun fly over pada setiap persimpangan yang belum memilikinya agar bisa disediakan jalur yang bebas hambatan.

Dengan pola  jalan lingkar searah ini maka banyak jalan arteri radial dapat dijadikan jalan searah. Beberapa jalan radial yang berada dalam area antara ring satu dan ring dua dapat dibuat jalan searah. Jalan radial antara ring dua dan ring tiga tetap dipertahankan dua arah untuk memudahkan gerakan melingkar (looping) sehingga kendaraan tidak perlu berputar jauh untuk menuju arah yang berlawanan dari ring tiga. Beberapa jalan radial antara ring tiga dan ring empat ( outer ring road ) juga dapat dibuat jalan searah.

Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan menetapkan jalan lingkar maupun arteri radial menjadi jalan satu arah, antara lain:

  1. Dapat dilakukan pemisahan jalur khusus sepeda dan jalur khusus kendaraan bermotor roda dua,
  2. Tidak akan terjadi intervensi terhadap jalur busway,
  3. Memudahkan pembangunan jalur MRT,
  4. Pelebaran trotoir,
  5. Pembangunan saluran air hujan yang cukup lebar di bawah trotoir untuk mengatasi masalah banjir genangan,
  6. Meminimalkan traffic light yang semula 4 phase menjadi hanya 2 phase sehingga tidak menimbulkan antrian panjang.

Dengan pola jalan lingkar searah, kemacetan lalulintas lebih cepat terurai karena  jalan lingkar searah dapat menjadi pembuka sumbatan.  Kendaraan bisa lebih cepat keluar dari perangkap kemacetan, karena bisa  diarahkan ke mana saja selama bertemu jalan lingkar searah.

Sebagai konsekwensi dari penerapan jalan lingkar searah maka harus ada penataan ulang sirkulasi lalulintas dan route pelayanan angkutan umum secara total. Penataan  route angkutan umum sebaiknya tidak lagi berbasis terminal ke terminal. Terminal Angkutan Umum dalam kota merupakan salah satu simpul kemacetan, sehingga harus ditiadakan. Penataan route dapat dilakukan  dari shelter ke shelter dari ujung ke ujung atau dari ujung ke dalam dan sebaliknya. Juga dapat dikembangkan route layanan angkutan umum melingkar atau “ loop bus”  di semua jalan lingkar searah. Satu hal yang penting juga dilakukan, semua jalan lingkar searah tersebut harus bebas dari angkutan umum paratransit ( angkot, mikrolet, bajaj ), kecuali taksi. Route angkutan paratransit ini diatur hanya sebagai feeder untuk angkutan umum kapasitas besar.

Sejalan dengan hal tersebut, karena niatnya adalah pembenahan total Jakarta, maka harus dilaksanakan juga berbagai upaya lain, diantaranya :

  1. Membatasi pertumbuhan kendaraan,
  2. Memindahkan pelabuhan Tanjung Priok,
  3. Memindahkan lokasi pergudangan keluar Jakarta dengan menyediakan lokasi pergudangan yang terintegrasi dengan Terminal Angkutan Barang di wilayah Bodetabek, yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi Commercial Center Perdagangan Grosir,
  4. Menutup Terminal Angkutan Dalam  Kota dan mengembangkan Terminal Angkutan Umum Antar Kota di pinggiran.
  5. Melarang pembangunan kampus perguruan tinggi  baru dan memindahkan sebagian yang ada,
  6. Melarang pembangunan RS baru dengan meningkatkan pelayanan Puskesmas.,
  7. Melarang pembangunan mal baru,
  8. Merampungkan jalan lingkar luar (ring road ) ruas barat secepatnya
  9. Melaksanakan kebijakan parkir maksimum di pusat kota

Apabila semua itu bisa dibenahi, rasanya tidak perlu memindahkan ibukota dari Jakarta. Berkaitan dengan hal tersebut maka penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030 yang sekarang sedang digodog sebaiknya dikaji ulang, sebab pembenahan total Jakarta akan menyebabkan  perubahan radikal dalam penataan ruang.

Iklan