By imazu

Hello blogger,

Perkenalkan nama saya Ismail Zubir ( imazu ). Saya lahir di Singapura tanggal 7 September 1947.Udah tua ya !. Nggak apa-apa pokoknya semangatnya masih muda. Buktinya masih senang ngeblogger. Riwayat pendidikan saya, kuliah di ITB Jurusan Planologi lulus tahun 1975, kemudian melanjutkan S2 nya di Ecole Nationale de Travaux Publique de l ‘Etat di Lyon Perancis Tahun 1986, bidang transportasi. Jadi bisa bahasa Perancis dikit-dikit lah. Saya dulu kerjanya di Dinas Tata Kota Pemda DKI Jakarta dengan jabatan terakhir cuma Wakil Kepala Dinas (cita-citanya sih jadi Wakil Gubernur atau Wakil Presiden, tapi  jadi wakil rakyat di DPR, ogah aaah ). Masih banyak tulisan saya yang belum saya posting karena tulisan dimaksud banyak berisi tabel-tabel, grafik dan diagram. Saya belum punya kemampuan untuk mengelola blog dengan baik karena begitu di copy ke blog semua tampilannya amburadul. Jadi kudu belajar HTML dulu supaya bisa bagus. Tapi rencananya semua tulisan tersebut Insya Allah akan saya buat menjadi 2 buah buku , satu buku khusus tentang zoning regulation dan hampir rampung dan buku lainnya baru rampung kira-kira 70 %.  Jadi sabar aja dan tetap setia di blog  ini.

Wassalam.

Email address saya : yung_imazu@yahoo.co.id , imazu747@gmail.com, imazu@ymail.com, imazu@rocketmail.com.

Ich, mentang-mentang gratisan serakah.


47 Responses to “GUE SIAPA ?”


  1. 1 2ny
    27/02/2008 pukul 05:53

    Kok ga dipasang fotonya…..?! Kan ga afdol kenalan ga tau siga naon beungeutna ?
    Oh iya, bagaimana kalau aku mau kirim foto, ga lihat ada tempat untuk foto ya? Capek kalau lihat tulisan mulu nih….
    Salam – 2ny

  2. 2 2ny
    02/02/2009 pukul 13:31

    hiii…. kayaknya ga ada yang baca nih Is…. buat aku juga masalah kalau membaca tulisannya kecil2 banget, capek deeee….. bisa ga digedein sedikit ya?
    Juga kasi foto2 dong…. Daripada pake wordpress yang terlalu serius ini mending pake facebook aja Is, gaulnya banyak, memanagenya juga mudah, Obama aja pake hehe….

  3. 3 Cecep Rukmana
    04/02/2009 pukul 03:03

    Yung saya sekali2 baca blog and saja ya, belum bisa tiap kali.

  4. 4 Lucy Andwita
    04/02/2009 pukul 04:58

    Pak Is, saya mahasiswa yang dulu pernah kerja praktek di tempat pak Is di Dinas Tata Kota DKI tahun 1989, pengen tahu nih pak ttg kajian gimana suatu kota udah jenuh dan nggak keliatan lagi imagenya (sama aja dengan yang lain). Makasih pak Is

  5. 5 imazu
    05/02/2009 pukul 01:38

    Terimakasih Lucy sudah berkunjung ke blog saya. Persoalan yang Lucy sampaikan sulit untuk menemukan jawaban yang tepat. Tetapi saya berusaha untuk menjawabnya.
    Pertama ; waktu saya kuliah S2 dulu di Perancis,bertemu seorang turis Eropa dan dia bertanya kepada saya apakah pernah berkunjung ke U.S. Pada waktu saya memang belumpernah ke sana. Dia bilang kalau anda ingin ke U.S maka cukup berkunjung ke 1 kota saja. Karena katanya 1 kota itu sudah cukup mewakili semua kota di Amerika. Berbeda jika anda mengunjungi Eropa. Setiap kota yang kita kunjungi berbeda satu sama lain. Memiliki karakter yang berbeda-beda.
    Mengapa kota-kota di Eropa begitu menarik. Karena mereka begitu peduli dengan heritage conservation.
    Di kota Paris pernah suatu ketika dibangun sebuah gedung setinggi 66 lantai pada jarak yang tidak jauh dari menara Eiffel. Sampai sekarang gedung tersebut masih berdiri tetapi menjadi sasaran caci maki para intelektual di sana. Bangunan ini menyebabkan Paris memiliki dua landmark sehingga mencederai keanggunan menara Eiffel. Maka sejak itu tidak diperkenankan adanya bangunan tinggi di sekitar pusat kota Paris dan Koeffisien Lantai Bangunan (KLB) ditahan apa adanya. Solusinya adalah mereka menyiapkan dua tempat di pinggiran kota Paris yang kemudian populer sebagai Two Manhattan of Paris, yaitu di La Defense dan Noisy Le Grand. Di tempat inilah diizinkan membangun bangunan ultra modern dengan ketinggian tanpa batas.
    Di Jakarta meskipun sudah ada kesadaran heritage conservation, tetapi tidak didukung oleh berbagai macam kebijakan. Contohnya di daerah pemugaran masih diperkenankan KLB melebihi dari kondisi awal.
    Kedua; banyak kota di Indonesia tidak mampu mengekspresikan keinginan warganya ke dalam suatu visi yang jelas yang bisa memberi inspirasi kepada semua orang untuk berpartisipasi membangun kotanya. (lihat tulisan tentang visi dan misi )
    Ketiga; kita masih menggunakan paradigma lama dalam membangun kota. Banyak kota di dunia ini sudah meninggalkan pendekatan demand led urban development dan beralih kepada policy led urban development. Pendekatan pertama terperangkap pada pembangunan infrastruktur dan sarana kota, sehingga yang dikejar hanya kuantitas tetapi melupakan kualitas; sedangkan pendekatan yang kedua merumuskan tujuan pembangunan yang bisa dilaksanakan melalui partisipasi dan kerjasama semua stakeholder. Kemudian cara pandang kita terhadap kota juga harus kita ubah (lihat tulisan Khusnuzon city).
    Sekarang ini juga sudah ada konsep pembangunan kota cerdas, Insya Allah lain waktu akan di posting di blog
    Keempat; untuk membangun kota juga ada banyak pilihan, ada 8 cara yaitu (1) mengurangi dan meminimumkan masalah ( 2 ) penyelesaian transendental ( timbal balik ), misal kalau menggusur maka harus menampung ( 3 ) Status Quo / benign neglect, biarkan saja tanpa melakukan apa-apa sampai kota itu mencapai kejenuhan. Orang bijak berkata apabila semua permasalahan telah mencapai puncaknya maka pasti dan pasti akan terjadi perubahan. ( 4 ) Revitalisasi mikro, memilih mendahulukan bagian tertentu wilayah kota untuk diremajalan ( 5 ) Growth center, membangun pusat pertumbuhan baru ( 6 ) New town in town , konsep peremajaan daerah kumuh tanpa menggusur dan menampung penghuninya dalam kota baru di dalam kota ( 7 ) Satelite communities, membangun kota satelit untuk mencegah urbanisasi ( 8 ) Free standing new city, membangun kota baru di luar kota. Tetapi tidak berarti harus melakukan semua pilihan sekaligus, dicari kombinasi pilihan mana yang paling baik dari sisi invenstasi, manfaat jangka pendek maupun jangka panjangnya.
    Sekian dulu ya Lucy. Jangan bosan mampir ke sini.

  6. 6 imazu
    05/02/2009 pukul 04:16

    Ren, Soal hurufnya kecil, kan gampang aja nggedeiannya. Download ke MS Word dan cari font yang ukurannya segede gajah.
    Kalo pake facebook, atau multiply atau friendster dan program lain yang sejenis, blog hanya pelengkap. Featurnya sederhana, nggak seperti wordpress. Obama memang pake wordpress. Tapi jangan lupa di sini juga banyak grup Obama ( orang Kebayoran Lama ) yang pake wordpress. Sekali wordpress tetap wordpress, siapa tahu ada yang usul jadi wapres.
    Kalo pembacanya bisa dilihat dari blog stats sebelah kanan atas. Sebelum puasa pengunjungnya baru 300an. Tetapi sekarang sudah di atas 1200. Nggak ada yang baca juga nggak apa-apa. Blog ini bisa dipake untuk menyimpan semua tulisan kita, seandainya semua file di rumah hilang tinggal buka blog dan download kembali semua file.

  7. 18/02/2009 pukul 11:36

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Izin pa ambil tulisannya ya, mudah-mudahan nambah nilai plus buat saya
    punteunnya
    Wassalam

  8. 8 imazu
    18/02/2009 pukul 19:30

    Silahkan, mudah-mudahan ada manfaatnya.

  9. 9 2ny
    19/02/2009 pukul 09:01

    Tengkyu Is, sudah ada faceshotnya…. lebih kebayang gayanya dan tulisannya. InsyaAllah kalo lagi serius dibaca. Sekarang aku lagi banyak urusan yang ga serius nih Is …hehe. Saya do’ain bisa jadi PRES sekalian tanggung kalo cuma WAPRES, hati-hati aja jangan sampai sutres ya…..
    Salam damai – 2ny

  10. 10 andy
    06/05/2009 pukul 20:28

    Saya sangat tertarik dengan tulisan anda.Saya mw nanya. zoning regulation itu menganut paradigma perencanaan yang mana, theosentrisme, uthopianisme, positivisme, rasionalisme, pragmatime, atau kahfenomenologi?

  11. 11 imazu
    07/05/2009 pukul 08:40

    Terus terang saya adalah seorang praktisi yang sudah lama tidak bergelut dengan teori, jadi silahkan saja anda menilai sendiri termasuk paradigma yang mana. Yang jelas ini adalah instrumen yang dipakai pada hampir seluruh kota-kota di dunia sebagai landasan dalam menyusun rencana di berbagai tingkatan.Suatu rencana harus bersifat statutory planning, disusun berdasarkan peraturan legislasi. Kalau tidak maka tidak memiliki kekuatan hukum, alias cacat hukum.

  12. 12 Bro, A Hendy S
    29/05/2009 pukul 06:58

    Assalamualaikum, Wr Wb.

    Salam kenal pak is, saya mau tanya simple saja…sebenarnya kita ini hanya sebagai perencana yang nota bene lebih banyak bekerja di atas kertas dan studio dengan segala idealisme untuk kesempurnaan outcome….tp apa lacur pada tahap imlementasi segala produk idealisme kita lebih banyak dilanggar ….bagaimana ini pak…. sebetulnya produk perencanaan itu sendiri merupakan law enforcement yang mengikat untuk dapat dilaknakan dan dijalankan….betul kan pak…he..he sekedar share..dan uneg2 …

    Trims.

  13. 13 imazu
    01/06/2009 pukul 15:15

    Wass.wr.wb.
    Senang berkenalan dengan anda. Perencanaan tata ruang memang mengikat, tetapi bukan harga mati. Kita harus menyadari bahwa dalam merencanakan tata ruang banyak kekurangan yang dihadapi. Informasi dan data yang tidak akurat saja bisa menghasilkan perencanaan yang bias. Terlebih lagi yang kita rencanakan adalah masa depan. Penguasa masa depan hanya Allah. Manusia merencanakan, Allah yang menentukan. Bagi kita masa depan adalah ketidakpastian dan penuh kejutan. Kalau anda membaca semua tulisan ttg zoning di sini maka anda akan paham bahwa jenis kegiatan semakin berkembang dan semakin beragam yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Maka di negara-negara maju planning disusun hanya sebagai platforme to be negotiated.
    Konsep zoning yang dikembangkan sekarang ini adalah juga untuk mengantisipasi perubahan bukan untuk mencegah. Oleh karena pada hampir semua peraturan zonasi yang ada selalu ada aturan main tentang hal tersbut. Maka diperlukan sebuah lembaga arbitrasi seperti komisi perencanaan, planning tribunal, lembaga rayuan dlsbnya yang keanggotaannya dari kalangan independen yang akan menjadi mediator bila terjadi perselisihan akibat penataan ruang antara Pemerintah dan masyarakat. Silahkan anda baca tulisan tentang penyimpanga tata ruang dan Komisi Perencanaan di blog ini, maka anda akan paham dan tidak perlu berkecil hati apabila terjadi resistensi atau penolakan rencana tata ruang yang telah disusun. Justru hal inilah yang menjadikan penyelenggaraan tata ruang sebagai proses yang berkelanjutan.

  14. 14 benny
    28/08/2009 pukul 01:01

    Assalamu’alaikum. pak is makasih dan salut dengan semangat dan keikhlasan bapak. saya PNS di dinas tata kota medan (sekarang tata ruang), baru 10 tahun kerja disitu. tapi udah 4 kali bosen karena teori, kebijakan, praktek dan kehendak masyarakat semuanya beda. udah s2 pulangnya semangat tapi kendor lagi. sempat kepikir keluar dari PNS tapi kawan2 bilang kalau saya diluar sistem gak bisa merubah keadaan, sementara senior2 saya liat juga sudah berbuat tapi tidak efektif. mungkin iklim bapak dl beda dengan indonesia kini tapi saya mohon saran bpk.
    Saya tunggu buku2 bapak sebagai praktisi tentu sangat menarik.

  15. 15 imazu
    28/08/2009 pukul 09:33

    Waalaikumsalam Ben,
    Memang tidak mudah merubah kemapanan yang sudah terbentuk sekarang ini di dalam birokrasi. Supaya anda tahu saja Rancangan Perda Ttg Peraturan Zonasi yang sudah saya susun untuk Pemda DKI Jakrta, sampai hari ini samasekali belum diajukan ke DPRD. Ada penolakan dari rekan-rekan sejawat saya sendiri. Mereka sangat kuatir apabila peraturan ini disahkan, tidak ada lagi peluang untuk mereka untuk berkolusi. ZR menjamin penyelenggaraan tata ruang yang sangat transparan, partisipatip dan bahkan sebagian kewenangan birokrasi bisa dipreteli. Ini yang mereka tidak kehendaki.
    Kalau anda memang punya idealisme dan integritas, jangan patah semangat. Berjuang terus pada akhirnya kebenaran itu akan datang. Saya memang sudah menulis buku tentang ZR, sebetulnya juga tinggal melakukan beberap revisi saja. Tetapi saya terlena dengan kesibukan mengurus dan mengembangkan blognya masjid di tempatnya saya tinggal (www.istiqomah12240.wordpress.com)dan sedang belajar membuat tulisan-tulisan yang bernuansa keagmaan. Insya Allah buku itu akan saya selesaikan, mudah-mudahan akhir tahun ini rampung.
    Wassalam.

  16. 16 syofiardi
    29/08/2009 pukul 08:20

    Ass.

    Salam kenal, Pak Is.
    Saya pertama ketemu tulisan Bapak via FB, tapi kurang puas dan akhirnya masuk ke blog. Ternyata mantap tho, he…
    Terima kasih atas pencerahannya. semoga Bapak tetap semangat menyebarkan ilmu2 yang dimiliki..

  17. 17 imazu
    30/08/2009 pukul 16:06

    Insya Allah. doakan saya diberi kesehatan sehingga masih dapat terus mengisi blog ini.

  18. 18 2ny
    30/08/2009 pukul 16:44

    Is, kalau dulu di DKI, apa RDTR itu harus diPerda-kan ga? Dan apakan Peraturan Zonasi itu isinya mengenai bagaimana peraturan membangun berdasarkan RDTR? Tengkyu…

  19. 19 benny
    30/08/2009 pukul 22:14

    makasih lg pak is, udah memberi jawaban dan saran. Kalau bapak saya undang jadi narasumber di Medan bersedia? Insya Allah ada kegiatan bulan September akhir atau awal Nopember. sekalian pengen diskusi. Saya belum baca konsep ZR bapak di DKI tapi biar gak berprasangka, mungkin kwn2 bapak bukan takut gak bs kolusi tapi aturannya mungkin aja dianggap terlalu ketat sehingga tidak memenuhi Konsep zoning sebagai alat untuk mengantisipasi perubahan bukan untuk mencegah; dan planning sebagai platforme to be negotiated seperti yang bapak sebutkan diatas. Maaf pak, sok tau banget ni.,, heee

  20. 20 imazu
    31/08/2009 pukul 10:43

    Buat Benny, Insya Allah Ben kalau ada waktu luang. Soalnya masih masih ada kesibukan antar jemput anak saya satu-satunya dan masih sekolah di SD.

    Buat Mbak Renny.
    RDTR kita tidak diperdakan. Bayangkan DKI punya 43 Kecamatan dan RDTR di susun dengan format kecamatan. Bisa gempor membahasnya. Lagian juga anda tahu sendiri sebagian besar anggota DPRD itu bukan orang teknis, ga ngerti apa-apa, jadi ngomongnya ngalor ngidul.Jadi dulu RDTR kita ditetapkan berdasarkan SK Gubernur, tetapi dengan persetujuan Dewan ( istilahnya dibahas setengah kamar, hanya dengan fraksi terkait saja ). Di samping itu kalau diperdakan harus mendapat persetujuan Mendagri. Jadi birokrasinya njlimet. Saya sudah bilang sama temen2 anda di P.U yang kepala batu, kalau RDTR diperdakan hanya cari penyakit.

    Dan mengenai pertanyaan apakah ZR artinya membangun berdasarkan RDTR. In ilah yang berulang-ulang saya sampaikan kepada teman2 di Departemen P.U segaimana paradigma yang salah. Bukan RDTR mendikte Zoning Regulation, sebaliknya ZR mendikte RDTR. RDTR harus disusun berdasarkan Zoning Regulation. Kalau ZR disusun berdasrkan RDTR maka sifatnya akan sangat localized. Bisa terjadi muncul aturann yang sangat bertentangan antara RDTR yang berdampingan. ZR bersifat generik, berlaku untuk setiao jengkal lahan perkotaan.
    Dimanapun di negara lain semua level perencanaan harus disusun berdasarkan ZR sehingga rencana tersebut bersifat Statutory Planning ( rencana yang disusun berdasarkan Peraturan Legislasi, karena ZR umumnya Peratur Nasional yang kemudian diadopsi sebagai Peraturan Daerah ). Maka apabila penyusunan RDTR mengacu kepada ZR, penbangunan dimaksud memiliki landasan hukum yang kuat untuk operasionalisasinya. Gini aja Ren, saya bersedia memberikan ceramah di Dep P.U ttg ZR ini. Kan anda Widya Iswara, bikin program ttg Zr, biar saya yang bicara.

  21. 21 2ny
    31/08/2009 pukul 10:58

    OK, tengkyu pak Is, nanti saya usulkan di Pusdiklat kita lagi menyusun Modul, termasuk untuk ZR, nanti saya usulkan paling ga anda bisa kasi masukan dalam acara pembahasan modul terkait ZR tersebut. Nanti japri saya kirimkan ke anda kalo sudah ada konsep yang agak lengkap ya. Salam – 2ny

  22. 15/09/2009 pukul 20:30

    Pak Imazu yg saya hormati….To the point aj y pak…Saat ini perkembangan menara telekomunikasi semakin pesat seiring dg bertambahnya jumlah pengguna telepon seluler. Sementara blm ada aturan tata ruang yg jelas yg mengatur keberadaan menara tersebut. Yg mw saya tanyakan pada penggunaan lahan yg bagaimana menara tersebut bsa dibangun? Apakah hrs ada di fungsi penggunaan lahan: jasa, mengingat BTS merupakan salah satu jasa. Trs biasanya fungsi jasa menyatu dg fungsi perdagangan yg natabene merupakan kawasan yg padat bangunan (aspek keselamatan). makasih..

  23. 23 diahkardinal
    17/09/2009 pukul 13:23

    halo pak, makasih atas postingannya tentang zoning regulation. kapan bukunya terbit nih? terimakasih

  24. 24 imazu
    21/09/2009 pukul 07:49

    Buat Mas Harendhika.
    Penggunaan yang bisa dipakai buat menara telekomunikasi terutama lahan-lahan yang berseifat publik selin RTH. Jadi penggunaan untuk jasa, komersial, industri dan fasilitas umum bisa dimanfaatkan untuk pembangunan menara. Penempatannya harus di atur sedemikian rupa, sebaiknya di bagian belakang persil. Ketentuan teknisnya memang harus diatur lebih lanjut. Penempatan menara di atas bangunan di negara lain sama sekali tidak diperkenankan, di sini seharusnya juga begitu.
    Memang susah mas, mengatur para pemodal kuat ini. Ada saja cara-cara mereka untuk memaksakan keinginan mereka.

    Buat Diahkardinal,
    Salam kenal juga, mudah2-an akhir tahun ini. Sengaja saya tunda dulu penerbitannya. Kan lebih baik promosi dulu sebelum buku terbit daripada promosi setelah terbit. Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang tahu tentang buku ini, barangkali sudah waktunya saya terbitkan. Draft sebetulnya sudah selesai, tinggal koreksian aja.Terimakasih.

  25. 25 2ny
    21/09/2009 pukul 09:02

    FYI di Ditjen PR setau saya sedang menyiapkan peraturan penataan ruang untuk BTS ini. Dan kayaknya Depkominfo sudah mengatur bahwa untuk kota padat seperti Jakarta para provider tidak boleh lagi membangun masing-masing menaranya. Jadi bisa berkolaborasi kalo perlu 1 menara BTS untuk beberapa provider dan secara teknis itu menurut ahlinya dimungkinkan. Saya pernah diundang rapat pembahasannya beberapa bulan yl, mudah2an berhasil sebagai peraturan dan bisa dimanfaatkan.

  26. 26 benny
    01/10/2009 pukul 00:12

    pak bisa nomer kontaknya? tnx. bisa juga kirim ke bennymarwan@yahoo.com. thx

  27. 27 imazu
    05/10/2009 pukul 08:33

    No. HP saya 0811865847

  28. 28 imazu
    05/10/2009 pukul 09:25

    Di Jakarta memang sudah ada SK ttg pembangunan menara bersama. Pembangunannya dikordinasaikan oleh PT. Jakprom, BUMD yang diberi kewenangan untuk membangun menara dan menyewakannya. Pembangunan menara bersama hanya bisa berhasil dilaksanakan oleh sebuah badan usaha yang netral, bukan provider. Para provider ini arogansinya tinggi sekali, mereka tidak mau kalu menara yang mereka bangun disewakan untuk provider yang lain. Maka kalau ingin buat peraturan nasional, sebaiknya diarahkan kepada badan usaha yang sifatnya netral tadi.

  29. 29 hery
    05/01/2010 pukul 12:53

    assallamu allaikum pak ismail…
    senang bisa ketemu bapak lagi meskipun di dunia maya.Sy mendapat pengalaman buanyak waktu mengikuti terlibat didalam penyusunan ZR DKI beberapa taun yang lalu sebelum keluar UU no 26 2007 bersama pak iking, pak joko, pak fausal dsb…begitu UU no 26 2007 keluar ternyata pengalaman ZR di DKI dulu sangat bermanfaat dan dapat diterapkan serta untuk di explore lagi di kota lain di indonesia…Namun memahamkan peraturan zonasi ke daerah daerah sungguh sangat sulit… al hasil.. hanya sebagian kecil saja dari ZR nya DKI dulu yang secara bertahap kami sampaikan di daerah. Untuk itu kalo buka pak ismail sudah terbit.. sudilah kiranya di publikasikan sehingga dapat menjadi referensi bagi kami2 yang terlibat didalam dunia konsultan tata ruang serta dapat memberi tambahan pemahaman bagi pemerintah daerah…
    sekian dulu pak… muadh mudahan pak ismail selalu sehat ….amin

  30. 30 imazu
    08/01/2010 pukul 10:54

    Ws.wr.wb. Terimakasih mas atas doanya. Belakangan ini memang belum posting tulisan baru krn konsentrasi selesaikan buku. Alhamdulillah naskah sudahselesai segera dsiirim ke penerbit. Kalau sd terbit nanti di info. Was

  31. 31 HASNUL NASMAR
    25/01/2010 pukul 16:35

    Assalamuallaikum ww,

    saya merasa merespon sekali hasil tulisan Bapak, sangat benar bahwa saat ini banyak sekali tower – tower yang yang merusak pemandangan. Dari sisi situlah maka saya melihat bahwa perlunya ada suatu terobosan baru sekaligus membantu instansi terkait untuk permasalahan pembangunan BTS baik yang baru maupun yang lama.

    Namun sayangnya pihak pemerintah / PEMDA / TATA RUANG belum banyak yang memahami tentang kamuflase ini. saya telah mencoba memberikan penjelasan baik disisi PEMDA maupun Operator seluler yang ada di Indonesia.

    Alhamdulillah konsep kamuflase ini diterima dibeberapa daerah, serta saya telah membangun beberapa tower kamuflase di Indonesia ini, malahan sampai kenegara tetangga.

    Konsep ini telah dilakukan test dengan standar Internasional dan telah mendapatkan sertifikat yang bisa dipertanggungjawabkan baik dari segi spesifikasi kamuflase sendiri maupun software yang kami gunakan, sedikit informasi bahwa tidak hanya menghitung freq saja namun kita harus menghitung juga kekuatan tower itu sendiri khususnya beban angin yang akan timbul.

    Ini sekedar informasi saja, mudah – mudahan ada manfaatnya, tapi yang penting bagi saya adalah pertemanan serta silahturaim dengan Bapak, karena menurutu ajaran agama yang saya yakini bahwa ” Bersilahturrahim akan mendatangkan Barokah ” mudah – mudahan kami mengharapkan demiakian amiiin.

    Terima kasih

    Wassalam

  32. 32 frida jayanti
    16/07/2010 pukul 19:15

    pak Is,,, saya ingin bertanya. Dalam menyikapi BTS bersama, bagaimana sebaiknya pemda memilih bts yg bisa dijadikan bts bersama? apakah semua bts yang ada saat ini bisa menjadi BTS bersama? terima kasih pak, mohon bantuannya,,,

  33. 33 imazu
    17/07/2010 pukul 09:03

    Terima kasih sdh berkunjung. Dari aspek fisik, tidak semua bts bisa dijadikan bts bersama, karena dimensinya yang berbeda-beda. Menara bts yg bisa dijadikan bts bersama yg tingginya minimum 50 meter, krn cukup banyak ruang untuk meletakkan antenanya. Dari aspek tata ruang, juga hrs dipilih BTS yg lokasinya sesuai, krn banyak dr BTS yg ada sifatnya hanya sementara krn tidak sesuai rencana tata ruang, misalkan terletak pd rencana pelebaran jalan. Dari aspek pengelolaan,memang agak sulit membuat bts yang ada menjadi bts bersama, krn ada arogansi dr masing2 provider. Oleh karena itu pemerintah harus tegas, dalam jangka pendek tidak lagi menerbitkan izin perpanjangan penggunaan bts, kecuali bila digunakan bersama. Dalam jangka panjang menyiapkan menara bts yg netral alias non provider. Sekarang ini di Jakarta sudah mulai banyak investor yg mengkhususkan diri dlm pembangunan menara bts. Bahkan juga Pemda DKI punya BUMD yg khusus menyediakan menara.

  34. 34 DinPer
    25/01/2011 pukul 22:54

    Saya termasuk salah seorang yang tidak setuju jika RDTR harus di perda kan, faktanya RTRW kab/kota saja sampai saat ini dari beberapa ratus kab/kota yang tuntas perdanya bisa dihitung jari tangan, apalagi jika harus memperdakan RDTR nya. hanya saja terkait dengan ZR saya sih berpikir setiap kawasan kota mempunyai fungsi yang berbeda-beda apalagi kalau pada kota sedang. kata pak Is juga kan yang bilang kegiatan pada suatu kawasan pada saat ini, akan mempunyai keragaman yang berbeda pada masa mendatang. belum lagi adanya pengembangan teknologi baik transportasi serta kegiatan lainnya pada masa mendatang akan menentukan pola yang berbeda pada masa mendatang. sehingg jika peraturan zonasi di tetapkan sebagai instrumen dalam Rencana Tata Ruang wilayah kota yang mempunyai dimensi 20 tahun, maka implentasi RTRW atau RDTR jadi tidak kreadible lagi dan ini artinya peraturan yang salah. lain halnya jika zoning regulation yang menjadi pengendali pemanfaatan ruang maka RTRW itu tidak harus lagi setiap tahun di revisi,karena ada ketentuan yang bisa flexible tanpa melanggar RTRW. terima kasih

  35. 35 imazu
    27/01/2011 pukul 08:50

    TerimA KAsih mas sudah berkunjung. Memang demikian praktek penataan ruang yg sekarang berlaku di seantero jagad

  36. 36 Tunggul Yunianto
    11/02/2011 pukul 08:10

    Assalamu’alaikum Pak Is…

    Wah, saya senang bisa menemukan blog ini. Bisa jadi bahan referensi saya dalam berargument khususnya tentang perkembangan kota Jakarta. Saya menilai Bapak ini lebih sebagai intelektual sekaligus (mantan) pejabat pemerintahan.

    Pak Is, saya mohon pendapat Bapak. Sebetulnya bagaimana sih posisi Kota Baru Bandar Kemayoran dalam konstelasi ketataruangan Jakarta? Kesan saya, selama ini pemda hanya mengikuti kemauan pemerintah pusat terkait dengan penataan ruang di sana. Apakah sebetulnya pemda DKI memiliki keinginan atau visi tersendiri dengan lahan komplek kemayoran tersebut? Sebetulnya apa yang pemda DKI ingin lakukan terhadap lahan tersebut (seandainya lahan tersebut diserahkan ke pemda)?

    Mudah-mudahan Pak Is berkenan membagi pendapatnya. Terima kasih

  37. 37 imazu
    16/02/2011 pukul 09:11

    Terima kasih telah berkunjung. Anda benar, pressure dari pemerintah pusat thd pembangunan di Jakarta masih kuat. Seharusnya Kemayoran, Tanjung Priuk, Gelora Bung Karno Senayan diserahkan pengelolaannya kepada Pemprov. Sampai saat ini semuanya masih dikuasai instansi Pusat. Padahal di belakang mereka ada cukong-cukong yang mendiktekan kehendak mereka. Sejak zaman Gubernur Wiyogo dulu, keinginan Pemprov sudah jelas. Kemayoran diarahkan sebagai Pusat Eksebisi di Jakarta dan kawasan rumah susun sederhana. Rintisannya sudah dimulai dgn pembangunan Jakarta Expo dan pembangunan beberapa tower rumah susun sederhana. Pusat eksebisi di sana bukan yang bersifat temporer seperti Jakarta Fair, tetapi permanen. Kenyataannya sekarang berbeda.
    Kalau ditanya apa keinginan / visi Pemprov sekarang, saya tdk berkompeten lagi utk menjawabnya, krn sy melihat sekarang sudh banyak pejabat yang kehilangan idealisme. Tetapi kalau ditanya apa pendapat saya, maka yang pertama lapangan golf harus di gusur dan seluruhnya dijadikan danau.Danau ini selain dpt dimanfaatkan sbg pengendali banjir, juga sbg biofilter untuk penjernihan air sungai, khususnya Kali Ciliwung yang melintasi Jalan Gunung Sahari. Kalau anda pernah ke Putrajaya, ada yang danau yang sangat jernih berasal dari sungai yang kotor. Air sungai sebeleum masuk ke dalam danau besar ditampung dulu dlm danau kecil seperti rawa-rawa yang ditanami semacam rumput yang menyerap kotoran sungai. Yang kedua jadikan Kemayoran sbg daerah penampung permanen utk relokasi penduduk Pademangan yang selalu dirundung banjir sepanjang tahun. Bangunkan utk mereka rumah susun yang layak untuk ditukarkandgn rumah mereka yg tdk layak lagi dihuni, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Pembangunan rumah susun bekerja sama dgn pengembang, kemudian lahan bekas hunian penduduk tersebut diserahkan kepada pengembang setelah dikurangi seluas laha nyg digunakan utk pembangunan rumah sbg aset Pemerintah. Program sewmacam ini sdh dilakukan di Malaysia pada hunian kumuh dan ternyata menguntungkan semua pihak. Yang ketiga tetap mempertahankan KemayoeaN sebagai eksebisi. Demikian mas Tunggul, semoga menjawab pertanyaan anda.

  38. 38 Tunggul Yunianto
    16/02/2011 pukul 19:23

    Dear Pak Is,

    Jawaban Bapak tak hanya menjawab pertanyaan saya. Jawaban Bapak Sekaligus juga membuat saya merenung kembali: apakah fungsi komplek kemayoran saat ini (existing condition) sudah cukup ideal?

    Untuk sementara ini, let me just contemplate on what you just explained to me. Saya berharap, nanti saya bisa muncul kembali dengan beberapa pertanyaan dan, tentunya, dengan harapan mendapatkan beberapa illuminating answers dari Bapak.

    Nuhun…

    -gul-

  39. 39 fia widayanto
    30/04/2011 pukul 09:18

    Semoga info dari bapak dibaca juga oleh pengambil kebijakan di kota tempat saya tinggal. Keadaan ini semakin sangat memuakkan, ruko dibangun diseluruh bagian kota tanpa mempertimbangkan zonasi. Belum lagi kondisi transportasi, kendaraan umum mulai hilang dari peredaran.. idealisme sudah tidak ada lagi.. parkir dipinggir jalan dilegalkan.. mataram o mataram.. nasibmu kini! 😦 makanya cita2 saya jadi walikota ajalah.. 😀 pngambil kebijakan yg g bisa diotak atik..

  40. 40 imazu
    01/05/2011 pukul 10:40

    Mudah2an cita2 anda tercapai. Saya doakan, tetapi jangan lupakan idealisme.
    Terima kasih telah berkunjung,

  41. 22/06/2011 pukul 23:05

    senang sekali bsa menemukan blog ini..seperti yg kita lihat banyak papan iklan yg sebagian mngkin merusak wajah kota..melindungi bangunan dan sebagainya..bagaimana ZR tentang media iklan yg satu ini..makasi….

  42. 42 imazu
    23/06/2011 pukul 14:40

    Mas smelant, terimakasih sudah mampir. Mengenai papan reklame memang belum secara detil diuraikan pengaturannya, seperti persyaratan tata guna tanah, lokasi, ukuran dan lain sebagainya. Sebetulnya Pemprov DKI Jakarta sdh membuat aturan khusus mengenai papan reklame dan kebetulan saya terlibat dlm penyusunannya. Sy sudah cari arsipnya belum ketemu, Insya Allah kl ada akan sy posting di blog ini.

  43. 43 vida
    23/10/2011 pukul 08:39

    hbat bg pak lulusan ITB trus nglanjutun k prancis,jdi pngin,..
    izin ambil tulisan nya ya,dikit aja,…
    salut deh poko nya,ama bapak..

  44. 44 Adib Zain
    19/02/2017 pukul 09:24

    Saya senang membaca tulisan Bapak terkait karya para Gubernur DKI dari zaman ke zaman; kalau bisa juga dari sejak zaman Fathahillah, zaman Belanda s.d. Fauzi Bowo… sungguh sangat menggugah dan memberikan kejelasan kepada kita semua.

    Wassalam Adib Zain

  45. 45 imazu
    19/02/2017 pukul 11:35

    Terima kasih telah berkunjung. Usulnya memang bagus, tp kayaknya utk memperoleh data sejak zaman Fathahillah itu agak sulit. Kl sejak zaman kolonial Belanda, sdh banyak buku yg diterbitkan. Jd sy akan fokus startingnya mungkin dr zaman Gubernur Sumarno, krn pd saat itulah dimulai pembangunan yg merubah wajah Jakarta. Pembangunan GBK Senayan, Monas, Hotel Indonesia, Jalan By Pass dr Grogol sampai Tg Priok dn jalan arteri Thamrin Sudirman sampai Semanggi, itu semua dibangun pd era beliau.

  46. 46 niasyafeialhambra@yahoo.co.id
    19/02/2017 pukul 18:32

    semoga bisa terus berkarya u NKRI…..!!!!!

  47. 47 imazu
    21/02/2017 pukul 17:31

    Terima ka sih atas dukungannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Anda pengunjung ke -

  • 62,466

Almanak

Juli 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  


%d blogger menyukai ini: