Posts Tagged ‘zoning regulation

18
Mei
09

3.3. lanjutan.


1. Network.

Adalah gambaran tentang pola geometris dari sistim jejaring kota terutama

jaringan jalan yang akan menampung berbagai macam  infrastruktur lain

seperti jaringan distribusi supply listrik dan air bersih, jaringan drainage dan

sewerage kota , jaringan komunikasi dan lain sebagainya..

Secara umum menurut Gibson kurang lebihnya  ada 6 pola bentuk kota seperti

yang terbentuk dari geographic arrangement yaitu seperti tergambar  dalam

diagram berikut :

scan0008

2. Aktifitas.

Adalah gambaran tentang ruang kegiatan penduduk kota yang tercermin dari

pola-pola zonasi atau guna lahan.

Secara umum pola-pola zonasi kurang lebihnya meliputi 3 teori, yaitu ;

Pertama adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Burgess (1925 ) tentang concentric zone theory, kedua Hommer Hoyt tentang sector theory dan ketiga Harris and Ullman tentang multiple nuclei theory. Concentric zone theory hanya cocok dikembangkan pada kota-kota kecil. Dalam konsep ini pola zonasi disusun dalam sabuk berlapis, mirip-mirip kue lapis legit begitu, dengan hanya ada satu pusat kegiatan utama ( single majority center ). Sector theory atau sering juga disebut concentric sectoral theory juga sebetulnya hanya cocok dikembangkan pada kota-kota kecil atau sedang. Dalam konsep ini juga hanya ada satu pusat kegiatan utama. Pola zonasi disusun sedemikian rupa agar setiap zona kegiatan punya singgungan langsung dengan pusat kegiatan utama, atau kurang lebihnya mirip-mirip payung fantasi warna-warni. Dengan konsep ini akan dapat dihindari bercampur baurnya pergerakan lalulintas menuju pusat kegiatan dari berbagai zona. Multiple nuclei theory pada hakekatnya adalah konsepsi pengembangan multi center yang menjadi dasar dalam pengembangan kota-kota metropolitan. Dalam konsep ini pola zonasi tidak lagi dalam kelompok yang utuh seperti dalam konsep-konsep sebelumya tetapi lebih sporadis dan tersebar di seluruh wilayah kota. .

Secara diagramatis ketiga teori tersebut dapat digambarkan dalam diagram berikut .

Trad2

3. Density.

Adalah gambaran tentang persebaran penduduk atau tingkat kepadatan penduduk kota pada  setiap distrik atau wilayah perencanaan.

Secara umum tingkat kepadatan penduduk sangat bergantung pada posisi geografis suatu lokasi terhadap pusat-pusat kegiatan. Semakin dekat lokasinya dengan pusat kegiatan maka akan semakin tinggi kepadatannya.

Density

Pola-pola kepadatan juga akan menentukan besarnya kebutuhan sarana dan prasarana kota dan penentuan jenis-jenis perpetakan dan luasannya. Diagram di bawah ini menunjukkan korelasi antara tingkat kepadatan, proporsi kebutuhan dan dimensi perpetakan. Diagram merupakan hasil simulasi dari  berbagai faktor antara lain standar kebutuhan sarana dan standar dimensi jalan yang sifatnya hirarkis.

4. Intensitas.

Adalah gambaran tentang pola pengendalian pengembangan lahan dan pola

sifat lingkungan. Pola pengendalian pengembangan lahan meliputi batasan-batasan tentang koeffisien dasar bangunan, koefisien lantai bangunan, koeffisien tapak basement,  koeffisien dasar hijau, ketinggian bangunan dan lain sebagainya. Sedangkan pola sifat lingkungan menggambarkan tentang tingkat kepadatan bangunan suatu kawasan.

Keempat komponen tersebut harus tergambar dengan jelas pada setiap jenjang

rencana. Sedangkan tingkat kedalaman muatannya akan sangat berbeda

di setiap jenjang. Semakin rendah jenjang rencananya akan semakin rinci

muatannya.

Materi struktur ruang kota pada berbagai jenjang rencana .

Pada tingkatan rencana makro ;

Struktur ruang kota digambarkan dalam peta-peta yang sifatnya diagramatis di atas peta teresteris maupun fotogrametris pada skala kecil berkisar dari skala 1 : 20.000 sd 1 : 50.000 tergantung dari besar kota bersangkutan

Sistem jejaring , menggambarkan konsepsi pengembangan jaringan makro kota di masa mendatang, meliputi jaringan makro transportasi darat dan air, jaringan makro utilitas, sistim drainage dan sewerage kota , dan lain sebagainya.

Aktifitas digambarkan dalam bentuk pengembangan zona-zona utama dan sistim pusat kegiatan, baik yang utama maupun penunjang

Persebaran penduduk digambarkan dalam bentuk target prediksi penduduk setiap wilayah administrasi atau unit perencanaan.

Intensitas pembangunan menggambarkan pola kebijakan intensitas dan pola sifat lingkungan. Pola kebijakan intensitas dibedakan atas dasar (1) kawasan yang intensitasnya ditahan sebagaimana adanya ( terutama pada kawasan kota tua / heritage ), (2) kawasan yang intensitasnya dibatasi sampai besaran tertentu tetapi transfer of development right berlaku, (3) kawasan yang intensitasnya dibatasi sampai besaran tertentu tetapi transfer of development right tidak berlaku, (4) kawasan yang intensitasnya dilepas sepanjang infrastruktur yang direncanakan mendukung. Pola sifat lingkungan dibedakan atas lingkungan padat, sedang dan rendah.

Pada tingkatan rencana meso ;

Struktur ruang kota digambarkan dalam peta teresteris ataupun fotogrametris skala 1 : 5000 atau paling kecil skala 1 : 10.000, meliputi ;

Sistim jejaring, meggambarkan tentang konsepsi pengembangan jaringan sub makro kota, baik jaringan transportasi, utilitas, seweragre dan drainase.

Aktifitas sudah harus digambarkan dalam pembagian zona –zona spesifik, karena sesungguhnya pada tingkatan inilah muncul apa yang disebut zoning plan

Persebaran penduduk sudah harus digambarkan dalam rencana kepadatan penduduk per hektar untuk setiap distrik ataupun unit perencanaan.

Intensitas pembangunan menggambarkan batasan nilai rata-rata bruto tiap unit perencanaan

Pada tingkatan rencana mikro.

Struktur ruang kota digambarkan pada peta teresteris skala 1 : 1.000 atau paling kecil skala 1 : 2000, meliputi ;

Sistem jejaring , menggambarkan tentang konsepsi pengembangan jaringan sampai dengan tingkat mikro, baik jaringan transportasi, utilitas, sewerage dan drainasi. Khusus untuk jaringan jalan sudah tergambar dimensi-dimensi teknis antara lain lebar  jalan (right of way), saluran dan sungai, garis sempadan bangunan.

Aktifitas digambarkan dalam paket penggunaan, pembagian blok dan perpetakan. Pada tingkatan inilah muncul apa yang disebut land use planning/ subdivision plan.

Kepadatan penduduk diterjemahkan ke dalam dimensi perpetakan.

Intensitas digambarkan dalam bentuk KLB, KDB, KDH, TB, Type bangunan dll.

Aplikasi perencanaan struktur ruang dalam setiap jenjang rencana adalah seperti

terlihat dari tabel berikut :

Apl.S.R

Iklan
30
Apr
09

3.3. Substansi rencana menurut jenjang rencana kota


Pada dasarnya pada setiap jenjang rencana kota mengandung 2 muatan utama, yakni materi umum dan materi teknis yaitu tentang struktur ruang kota

3.3.1. Materi umum.

Materi umum adalah uraian yang bersifat deskriptip meliputi penjelasan tentang hal-hal yang ingin dicapai dan cara melaksanakannya.

Pada tingkatan rencana makro , kedalaman muatannya adalah sbb ;

uraian mengenai visi dan misi, tujuan, kebijakan yang bersifat sektoral maupun territorial, strategi pengembangan kota, tahapan maupun prioritas pengembangan.

Pada tingkatan rencana meso, kedalaman muatannya adalah sebagai berikut :

uraian mengenai tujuan yang bersifat lebih spesifik, sasaran dan program pembangunan kawasan dan sektoral.

Pada tingkatan rencana mikro , kedalaman muatannya adalah uraian tentang program dan proyek.

3.3.2. Struktur ruang kota.

Sebelum menguraikan muatan tentang struktur ruang kota maka terlebih dahulu akan dijelaskan tentang pengertian struktur ruang kota dan berbagai komponen utama pembentuk struktur.

Pengertian

Larry S. Bourne ( Larry S. Bourne : Internal Structure of the City, 1982) mendefinisikan struktur ruang kota sebagai berikut :

1, Urban form atau bentuk kota adalah pola ruang atau tatanan dari setiap unsur yang berada dalam area perkotaan, baik bangunan maupun guna lahan ( secara kolektip membentuk lingkungan terbangun ) termasuk juga tatanan kelompok-kelompok sosial, kegiatanekonomi dan institusi publik.

2. Urban interaction adalah interrelasi, keterkaitan, aliran yang mengintegrasikan pola dan perilaku guna lahan, kelompok dan kegiatan ke dalam entitas fungsi, dalam berbagai sub-sistem.

3. Urban spatisial structure atau struktur ruang kota adalah kombinasi dari kedua hal tersebut di atas dalam sub-sub system dengan seperangkat aturan formal yang mengkaitkan semua sub system tersebut ke dalam system kota.

Komponen pembentuk struktur

Menurut S. Bourne  ada beberapa unsur yang membentuk struktur ruang kota antara lain : (1) density, (2) diversity (homogeneity), (3) concentricity, (4) sectorality, (5) conentivity (linkages), (6) directionality.

Sedangkan J.E Gibson ( J.E Gibson: Designing The New City, 1977) menyebutkan bahwa urban form, atau spatial organization ditentukan oleh 6 unsur, yaitu (1) size (ukuran atau besaran penduduk atau geografis kota), (2) population density (pola persebaran penduduk) (3) geometric arrangement (pola jaringan jalan ), (4) grain (dalam konteks ini dimaksudkan sebagai diversity in urban environment, contohnya disebutkan bahwa setiap distrik itu sebaiknya minimal mempunyai 2 fungsi utama atau lebih; blok-blok harus lebih pendek agar sirkulasi lebih mudah dan cepat ; setiap distrik sebaiknya terdiri dari bangunan dari berbagai usia dan kondisi; harus memiliki konsentrasi penduduk yang cukup), (5) accessibility ( adalah kemampuan penduduk, barang atau informasi untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain ) dan (6) character ( menyangkut corak atau kesan estetis suatu lokasi ). Gibson menyebutkan bahwa dari keenam faktor tersebut pola geometric arrangement yang paling menentukan dalam memberikan ciri atau bentuk kota secara fisik.

Pandangan penulis sebagai seorang praktisi yang berkecimpung hampir 30 tahun dalam bidang penataan kota menyimpulkan bahwa struktur ruang kota adalah apa yang disebut sebagai NADI kota. Mengapa disebut nadi kota ? Karena pada hakekatnya struktur ruang kota terdiri dari 4 komponen pembentuk struktur, yaitu N (network), A ( activity), D (distribution of population /density ) dan I ( Intensity ). Materi teknis peraturan zonasi pada hakekatnya adalah mengatur setiap komponen pembentuk struktur tersebut.

to be continued..